Gelombang protes di Iran dilaporkan semakin meluas dan mematikan. Seorang dokter di Teheran menyebut sedikitnya 217 demonstran tewas hanya dari enam rumah sakit di ibu kota, ketika aparat keamanan menindak unjuk rasa besar-besaran pada Kamis malam.
Keterangan itu disampaikan dokter tersebut kepada majalah TIME dengan syarat anonim. Ia menegaskan bahwa sebagian besar korban meninggal akibat peluru tajam yang ditembakkan aparat.
“Hanya enam rumah sakit di ibu kota mencatat setidaknya 217 kematian demonstran,” ujar dokter tersebut, seraya menambahkan bahwa mayoritas korban adalah warga sipil.
Angka Kematian Masih Belum Terverifikasi Independen
Laporan TIME yang dikutip Sabtu (10/1/2026) menyebut angka korban ini belum dapat diverifikasi secara independen. Namun, jika benar, jumlah tersebut mengindikasikan operasi penindakan besar-besaran yang dikhawatirkan sejak pemerintah Iran melakukan pemadaman hampir total internet dan jaringan telepon nasional pada Kamis malam.
Pemadaman komunikasi ini dinilai menyulitkan proses verifikasi korban dan mempersempit arus informasi keluar dari Iran. Sejumlah aktivis menyebut langkah tersebut sebagai pola klasik untuk menekan dokumentasi kekerasan aparat.
Protes Menyebar ke 31 Provinsi
Menurut laporan berbagai sumber, demonstrasi kini telah meluas ke seluruh 31 provinsi di Iran. Aksi massa ini bermula pada 28 Desember sebagai protes atas memburuknya kondisi ekonomi, inflasi tinggi, dan pengangguran.
Seiring waktu, tuntutan berkembang menjadi seruan politik yang lebih luas, termasuk permintaan penggulingan rezim Islam otoriter yang berkuasa sejak Revolusi 1979.
Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan demonstrasi sebagian besar berlangsung damai. Massa terdengar meneriakkan slogan seperti “Kebebasan” dan “Matilah Sang Diktator”. Meski begitu, terdapat pula laporan vandalisme terhadap sejumlah gedung pemerintah.
Kesaksian Rumah Sakit dan Korban Muda
Dokter di Teheran tersebut menyebut bahwa pada Jumat, otoritas memindahkan sejumlah jenazah dari rumah sakit. Ia menuturkan bahwa mayoritas korban adalah anak muda.
Beberapa korban dilaporkan tewas di luar sebuah kantor polisi di Teheran utara. Dalam insiden itu, aparat diduga menembakkan rentetan senapan mesin ke arah kerumunan demonstran.
“Mereka tewas di tempat,” kata dokter itu. Aktivis menyebut sedikitnya 30 orang ditembak dalam satu kejadian tersebut.
Perbedaan Data dengan Kelompok HAM
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia melaporkan angka korban yang lebih rendah. Human Rights Activist News Agency yang berbasis di Washington, D.C., mencatat sedikitnya 63 kematian sejak awal protes.
Dari jumlah tersebut, 49 orang diidentifikasi sebagai warga sipil. Perbedaan angka ini diduga muncul akibat standar verifikasi dan keterbatasan akses informasi di tengah represi negara.
Ancaman Terbuka dari Rezim
Laporan korban tewas muncul bersamaan dengan pernyataan keras dari otoritas Iran. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam “tidak akan mundur menghadapi para perusuh.”
Ia menuding para demonstran berupaya menyenangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Jaksa Teheran bahkan menyatakan bahwa para pengunjuk rasa dapat menghadapi hukuman mati. Di televisi pemerintah, seorang pejabat Garda Revolusi Iran memperingatkan orang tua agar menjauhkan anak-anak mereka dari protes.
“Jika peluru mengenai kalian, jangan mengeluh,” kata pejabat tersebut dalam siaran nasional.
Tekanan Internasional dan Analisis Pakar
Ancaman dan kekerasan yang terekam di media sosial pada Jumat memperkuat kesan bahwa perintah represif telah diperjelas. Pada 11 hari pertama protes, respons aparat disebut masih diliputi kebingungan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa rezim Iran akan “membayar mahal” jika terus membunuh demonstran.
Pakar Iran yang berbasis di New Jersey, Hossein Hafezian, menilai penggunaan kekuatan brutal akan meningkat ketika protes memasuki wilayah kelas menengah.
“Ketika demonstrasi menyentuh kelas menengah, rezim tidak akan ragu menggunakan kekuatan brutal,” ujarnya.
Situasi Kian Genting
Pengamat menilai situasi di Iran memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi tekanan ekonomi, tuntutan politik, dan kekerasan negara dinilai berpotensi memicu eskalasi lebih luas.
Dengan keterbatasan informasi akibat pemadaman internet, dunia internasional kini menyoroti Iran dengan kewaspadaan tinggi, menunggu apakah represi akan berlanjut atau membuka ruang dialog yang selama ini tertutup.
Baca juga : KPK Periksa 8 Orang Terjaring OTT di Jakarta Utara
Cek Juga Artikel Dari Platform : iklanjualbeli

