Diabetes Tidak Mengenal Usia
Banyak orang masih menganggap diabetes sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Padahal, kenyataannya diabetes dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak dan remaja. Kisah Shinta Sari Wahju menjadi bukti nyata bahwa penyakit ini bisa datang jauh lebih awal dari yang dibayangkan, bahkan ketika seseorang masih berada di bangku sekolah menengah pertama.
Shinta didiagnosis menderita diabetes sejak usia 13 tahun. Di usia yang seharusnya dipenuhi dengan aktivitas belajar, bermain, dan bersosialisasi, ia justru harus menghadapi kenyataan hidup berdampingan dengan penyakit kronis. Sejak saat itu, Shinta bergantung pada pengobatan untuk menjaga kadar gula darahnya tetap terkendali.
Diagnosis tersebut bukan hanya mengubah rutinitas hariannya, tetapi juga cara pandangnya terhadap kesehatan. Namun seperti banyak remaja lainnya, Shinta sempat merasa sulit untuk sepenuhnya disiplin menjalani pengobatan dan pola hidup yang dianjurkan.
Masa Remaja dan Tantangan Disiplin
Memasuki usia remaja hingga awal dewasa, Shinta mengakui tidak selalu patuh terhadap pengobatan yang dijalaninya. Rasa jenuh, keinginan untuk hidup “normal” seperti teman-temannya, serta minimnya kesadaran akan dampak jangka panjang membuatnya kerap abai terhadap kontrol gula darah.
Pada fase ini, gejala diabetes tidak selalu terasa berat. Kondisi inilah yang sering menipu banyak penderita, terutama usia muda, sehingga merasa aman meskipun kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Padahal, kerusakan akibat diabetes sering kali terjadi secara perlahan dan baru terasa setelah bertahun-tahun kemudian.
Shinta baru menyadari betapa serius dampak ketidakdisiplinan tersebut ketika memasuki usia 20-an. Saat itulah komplikasi mulai muncul, khususnya pada organ penglihatan.
Awal Gangguan Penglihatan
Salah satu momen paling mengkhawatirkan dalam hidup Shinta terjadi ketika mata kanannya tiba-tiba mengalami gangguan serius. Ia merasakan pandangannya menjadi gelap, seolah tertutup bayangan hitam. Kondisi tersebut membuatnya segera memeriksakan diri ke dokter mata.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pecah pembuluh darah di retina, kondisi yang umum terjadi pada penderita diabetes dengan kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol. Gangguan ini dikenal sebagai retinopati diabetik, salah satu komplikasi paling serius dari diabetes.
“Mata kanan saya lihatnya gelap hitam. Langsung ke dokter mata, disuntik beberapa kali lalu dilaser baru terang lagi,” ungkap Shinta mengenang pengalaman tersebut.
Tindakan laser dilakukan untuk menghentikan perdarahan dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada retina. Meski penglihatannya sempat membaik, kejadian itu menjadi peringatan keras bahwa diabetes yang tidak terkelola dengan baik dapat mengancam kualitas hidup secara signifikan.
Komplikasi Berlanjut di Mata Kiri
Masalah Shinta belum sepenuhnya berakhir. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2017, mata kirinya mulai mengalami gangguan berupa floaters, yaitu bintik-bintik hitam yang tampak melayang di penglihatan. Gejala ini sering kali menjadi tanda adanya perdarahan atau gangguan di dalam bola mata.
Saat itu, kadar gula darah Shinta tercatat mencapai sekitar 220 mg/dL, angka yang jauh di atas batas normal. Kondisi tersebut akhirnya mengharuskannya menjalani tindakan operasi vitrektomi, yaitu prosedur medis untuk membersihkan darah atau jaringan yang mengganggu di dalam mata.
Pengalaman ini semakin menegaskan bahwa komplikasi diabetes dapat bersifat progresif dan tidak berhenti pada satu organ saja. Tanpa pengendalian yang baik, risiko kerusakan organ lain akan terus meningkat.
Dampak Psikologis dan Kesadaran Baru
Mengalami gangguan penglihatan di usia produktif bukanlah hal yang mudah. Selain dampak fisik, Shinta juga harus menghadapi tekanan psikologis, mulai dari rasa takut kehilangan penglihatan hingga kekhawatiran akan masa depan. Namun dari pengalaman pahit tersebut, tumbuh kesadaran baru tentang pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Shinta mulai lebih disiplin dalam mengelola diabetes. Ia menyadari bahwa obat saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan pola makan yang terkontrol, aktivitas fisik yang sesuai, serta pemeriksaan kesehatan rutin. Kesadaran ini datang setelah ia merasakan langsung konsekuensi dari kelalaian di masa lalu.
Pelajaran Penting bagi Penderita Diabetes
Kisah Shinta menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun, khususnya penderita diabetes usia muda. Penyakit ini memang tidak selalu menunjukkan gejala berat di awal, tetapi dampaknya dapat sangat serius dalam jangka panjang.
Secara medis, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di berbagai organ, termasuk mata, ginjal, dan saraf. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin, termasuk pemeriksaan mata, menjadi sangat penting bagi penderita diabetes, bahkan ketika tidak ada keluhan.
Disiplin dalam menjalani pengobatan dan pola hidup sehat bukan hanya bertujuan mencegah gejala jangka pendek, tetapi juga melindungi kualitas hidup di masa depan.
Pesan untuk Remaja dan Orang Tua
Pengalaman Shinta juga menjadi pengingat bagi orang tua dan remaja bahwa diabetes pada usia muda bukan hal sepele. Edukasi sejak dini, pendampingan keluarga, serta komunikasi yang baik dengan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan agar penderita tidak merasa sendirian dalam menjalani penyakit ini.
Remaja dengan diabetes perlu dukungan emosional agar tetap termotivasi menjalani pengobatan. Tanpa dukungan tersebut, risiko ketidakdisiplinan akan semakin besar, seperti yang pernah dialami Shinta.
Menjaga Kualitas Hidup
Kini, Shinta menjadikan kisah hidupnya sebagai pengingat bahwa kualitas hidup penderita diabetes sangat bergantung pada cara mereka mengelola penyakit tersebut. Diabetes memang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan dengan pendekatan yang tepat dan konsisten.
Perjalanan Shinta melawan diabetes sejak usia 13 tahun hingga menghadapi komplikasi mata menunjukkan bahwa kesadaran, disiplin, dan penanganan medis yang tepat adalah kunci utama. Dengan pengelolaan yang baik, penderita diabetes tetap memiliki peluang besar untuk menjalani hidup yang produktif dan bermakna tanpa harus kehilangan fungsi organ vital.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang penyakit, tetapi tentang perjuangan, pembelajaran, dan harapan bahwa dengan langkah yang benar, dampak diabetes dapat diminimalkan.
Baca Juga : Kisah Melli Menembus Bencana Aceh Demi Pulang ke Keluarga
Cek Juga Artikel Dari Platform : dapurkuliner

