Ketika Jalan Terputus, Pulang Menjadi Satu-satunya Pilihan
Di tengah lanskap bencana yang belum sepenuhnya pulih di Aceh, kisah Melli Saputri (25) menjadi potret kecil tentang keteguhan hati seorang anak dan ibu. Ketika komunikasi terputus, jalan rusak, dan akses transportasi lumpuh, Melli dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: bertahan di kota atau mengambil risiko pulang demi memastikan keluarganya baik-baik saja.
Bagi Melli, pulang bukan sekadar perjalanan fisik. Pulang adalah panggilan batin. Dari Banda Aceh, ia memutuskan menembus keterbatasan menuju kampung halaman di Kabupaten Bener Meriah, daerah yang turut terdampak banjir dan longsor pada akhir 2025.
“Waktu itu kabar dari kampung sudah jarang masuk. Jalan katanya banyak yang putus. Saya cuma kepikiran satu hal, pulang,” kenang Melli.
Perjalanan yang Berubah Menjadi Ujian Keberanian
Tanggal 30 Desember 2025 seharusnya menjadi hari perjalanan biasa. Bersama adik dan anaknya yang masih kecil, Melli menumpang kendaraan umum jenis L300 dari Banda Aceh menuju kawasan Tenge Besi. Namun, seiring kendaraan melaju ke wilayah terdampak, kenyataan pahit mulai terasa.
Jalur utama yang biasanya bisa dilalui kini rusak dan tergenang. Sopir terpaksa memutar arah, memilih jalur alternatif yang kondisinya jauh dari kata aman. Bagi Melli dan penumpang lain, perjalanan ini perlahan berubah menjadi ujian nyali.
“Di kawasan Wih Porak, mobil sempat tersangkut. Air deras seperti sungai, bukan lagi genangan. Semua penumpang akhirnya turun,” ujar Melli kepada Metrotvnews.com.
Melangkah di Tengah Arus dan Lumpur
Tak ada pilihan lain. Melli dan rombongan penumpang melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di tengah hujan sisa bencana dan jalan berlumpur, Melli memanggul dua peran sekaligus: sebagai ibu dan sebagai anak yang membawa tanggung jawab untuk keluarga di kampung.
Di punggungnya, tas berisi pakaian digendong erat. Di dadanya, tas lain berisi sembako ia peluk kuat-kuat. Bekal itu sengaja dibawa dari Banda Aceh, karena Melli tahu betul kondisi di Bener Meriah pascabencana.
“Apa-apa mahal di sana,” ucapnya lirih.
Harga kebutuhan pokok melonjak, pasokan tersendat, dan banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan harian. Bagi Melli, sembako itu bukan sekadar barang, tetapi bentuk kepedulian dan cinta untuk keluarga yang menanti di rumah.
Medan Sulit dan Pilihan Menyewa Porter
Langkah demi langkah terasa semakin berat ketika rombongan mendekati jembatan berlumpur. Lumpur tebal, genangan air, dan struktur jembatan yang licin membuat perjalanan semakin berisiko, terutama bagi Melli yang membawa anak.
Dalam kondisi itu, ia memutuskan menyewa jasa porter lokal. Keputusan ini diambil bukan karena kenyamanan, melainkan demi keselamatan.
“Takut barang jatuh, takut anak kenapa-kenapa. Jadi saya minta tolong porter buat menyeberangkan barang,” tuturnya.
Keberadaan porter menjadi secercah harapan di tengah keterbatasan. Mereka adalah warga setempat yang memahami medan dan berani membantu siapa pun yang melintas.
Dari Mobil Pikap hingga Kaki Sendiri
Selepas melewati jembatan, tantangan belum usai. Kendaraan biasa tak lagi mampu melintas. Jalan berubah menjadi lintasan lumpur yang hanya bisa dilewati kendaraan tertentu.
Melli dan anaknya kemudian menumpang mobil pikap. Tak ada tarif pasti, hanya bayaran sukarela. Di titik terakhir yang masih bisa dilalui kendaraan, mereka kembali turun dan berjalan kaki.
Tenaga Melli hampir habis. Langkahnya melambat, napas tersengal, namun tekadnya tetap utuh. Ia hanya ingin sampai.
Sinyal Kembali, Harapan Datang
Di tengah kelelahan dan rasa cemas, harapan akhirnya datang dari arah yang tak disangka. Sinyal komunikasi yang sebelumnya hilang tiba-tiba kembali terhubung. Pesan Melli akhirnya sampai ke sang ayah.
Tak lama kemudian, dari arah berlawanan, sosok yang paling ia rindukan muncul. Ayahnya datang menjemput.
“Waktu mau sampai, abah datang jemput. Akhirnya dibantu sampai jumpa sama keluarga di rumah,” kata Melli, suaranya bergetar menahan haru.
Momen itu menjadi penutup perjalanan panjang yang penuh risiko. Di balik lumpur dan lelah, ada pelukan keluarga yang menunggu.
Potret Ketahanan Warga Aceh
Kisah Melli bukan satu-satunya. Di berbagai wilayah Aceh, ribuan warga menghadapi situasi serupa. Jalan terputus, transportasi lumpuh, dan komunikasi terhambat memaksa masyarakat mengandalkan kekuatan sendiri, gotong royong, dan solidaritas.
Bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menguji daya tahan sosial dan mental warga. Namun dari keterbatasan itu, lahir kisah-kisah kemanusiaan yang menguatkan.
Perempuan, Ibu, dan Keberanian
Sebagai perempuan muda dan ibu, perjalanan Melli mencerminkan keberanian yang sering kali luput dari sorotan. Ia tidak menembus bencana demi sensasi, tetapi demi tanggung jawab dan kasih sayang.
Keputusan membawa sembako, menjaga anak di tengah arus air, hingga bertahan di jalur berbahaya menunjukkan kekuatan yang lahir dari cinta keluarga.
Bencana dan Makna Pulang
Pulang, dalam konteks bencana Aceh, bukan sekadar kembali ke rumah. Pulang adalah memastikan orang-orang terkasih selamat, berbagi beban, dan menguatkan satu sama lain di masa sulit.
Perjalanan Melli mengingatkan bahwa di balik data bencana, ada manusia dengan cerita, rasa takut, dan harapan yang nyata.
Penutup
Kisah Melli Saputri menembus bencana Aceh demi berkumpul bersama keluarga di Bener Meriah menjadi potret nyata keteguhan hati warga di tengah krisis. Di saat jalan terputus dan risiko mengintai, cinta keluarga menjadi kompas yang menuntun langkahnya.
Cerita ini bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi tentang keberanian, solidaritas, dan makna pulang yang sesungguhnya. Di tengah bencana, Aceh tidak hanya menunjukkan luka, tetapi juga kekuatan manusianya.
Baca juga : Gaji dan Tunjangan Tamtama TNI AD 2026 Lengkap dan Terbaru
Cek Juga Artikel Dari Platform : pontianaknews

