Warga Desa Santaban, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, digegerkan oleh kabar hilangnya seorang petani yang tak kunjung pulang setelah pergi ke kebun. Hingga awal Januari 2026, korban belum ditemukan, sementara upaya pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan bersama masyarakat setempat.
Korban diketahui bernama Toni (65), warga Dusun Senipahan, Desa Santaban. Ia dilaporkan hilang setelah lebih dari dua pekan tidak kembali ke rumah sejak terakhir kali berpamitan pergi ke kebun. Hilangnya Toni menyisakan tanda tanya besar di tengah keluarga dan warga sekitar, mengingat korban dikenal sebagai sosok yang terbiasa bekerja di kebun dan jarang meninggalkan lokasi tanpa kabar.
Terakhir Terlihat di Pondok Kebun
Berdasarkan keterangan keluarga, Toni terakhir kali diketahui berada di pondok kebun miliknya pada Sabtu, 13 Desember 2025, sekitar pukul 13.00 WIB. Seperti kebiasaan sebelumnya, korban memang kerap bermalam di pondok kebun untuk menjaga tanaman sekaligus beristirahat setelah bekerja seharian.
Namun, setelah beberapa hari berlalu, keluarga mulai merasa cemas karena Toni tidak juga pulang ke rumah. Kekhawatiran semakin bertambah ketika upaya menghubungi korban tidak membuahkan hasil, sementara korban dikenal tidak memiliki kebiasaan pergi jauh tanpa memberi tahu keluarga.
Pada Minggu, 21 Desember 2025, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk mendatangi pondok kebun guna memastikan kondisi korban. Namun, setibanya di lokasi, Toni sudah tidak berada di pondok. Tidak ada tanda-tanda keberadaan korban, selain beberapa barang yang tertinggal.
Temuan Mencurigakan di Lokasi
Saat melakukan pengecekan di pondok kebun, keluarga menemukan sisa makanan berupa nasi dan lauk pauk dalam kondisi basi serta berjamur. Temuan ini mengindikasikan bahwa pondok tersebut telah lama ditinggalkan dan korban kemungkinan sudah tidak berada di lokasi sejak beberapa hari sebelumnya.
Kondisi pondok yang sepi tanpa aktivitas semakin memperkuat dugaan bahwa Toni menghilang dalam kondisi yang tidak biasa. Pasalnya, jika korban pergi meninggalkan kebun secara sadar, ia diduga akan membawa barang-barang pribadi atau setidaknya meninggalkan pesan bagi keluarga.
“Dari kondisi makanan yang sudah basi dan berjamur, terlihat bahwa pondok sudah cukup lama ditinggalkan. Ini yang membuat keluarga semakin khawatir,” ungkap salah satu warga setempat.
Pencarian Mandiri hingga Laporan Resmi
Setelah tidak menemukan korban di pondok kebun, keluarga bersama warga sekitar langsung melakukan pencarian mandiri. Area kebun, hutan sekitar, hingga jalur-jalur yang biasa dilalui korban ditelusuri secara bergantian. Namun, hingga beberapa hari pencarian dilakukan, tidak ada petunjuk berarti yang mengarah pada keberadaan Toni.
Koordinator Pos SAR Sintete, Zulhijah, menjelaskan bahwa keluarga dan masyarakat telah berupaya maksimal sebelum akhirnya melibatkan aparat.
“Pengecekan di pondok kebun pada 21 Desember tidak menemukan korban. Keluarga kemudian melakukan pencarian bersama masyarakat. Pada 26 Desember 2025, keluarga melapor ke Kepala Desa Santaban, dan selanjutnya pada 28 Desember 2025 membuat laporan resmi ke Polsek Sajingan Besar,” jelas Zulhijah.
Laporan resmi tersebut menjadi dasar dibentuknya tim pencarian gabungan yang melibatkan unsur SAR, kepolisian, aparat desa, serta relawan masyarakat.
Tim SAR Gabungan Dikerahkan
Sejak laporan diterima, Tim SAR gabungan mulai melakukan penyisiran di sekitar lokasi kebun dan wilayah yang diduga menjadi jalur aktivitas korban. Medan pencarian cukup menantang karena area Sajingan Besar dikenal memiliki kebun yang berbatasan langsung dengan hutan dan perbukitan.
Pencarian difokuskan pada radius tertentu dari pondok kebun, termasuk jalur setapak, aliran sungai kecil, dan kawasan semak yang berpotensi menjadi tempat korban tersesat atau mengalami kecelakaan.
“Kami melakukan pencarian secara bertahap dengan metode penyisiran darat. Medannya cukup sulit, sehingga pencarian membutuhkan waktu dan tenaga ekstra,” ujar Zulhijah.
Hingga Kamis, 1 Januari 2026, upaya pencarian masih berlangsung. Tim SAR terus berkoordinasi dengan keluarga dan warga setempat untuk menggali informasi tambahan yang mungkin membantu mengungkap keberadaan korban.
Dugaan dan Kekhawatiran Keluarga
Hilangnya Toni memunculkan berbagai dugaan di tengah keluarga dan masyarakat. Usia korban yang sudah lanjut menjadi salah satu faktor kekhawatiran, terutama jika korban mengalami kelelahan, sakit mendadak, atau tersesat di area kebun dan hutan.
Selain itu, kondisi medan yang cukup ekstrem juga meningkatkan risiko kecelakaan, seperti terjatuh atau terperosok di area yang sulit dijangkau. Namun hingga kini, belum ada bukti atau petunjuk kuat yang mengarah pada satu kesimpulan tertentu.
Keluarga berharap Toni dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Mereka juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang turut membantu pencarian.
“Kami hanya berharap beliau bisa ditemukan. Entah bagaimana kondisinya, yang penting ada kejelasan,” ungkap salah satu anggota keluarga dengan nada harap.
Imbauan untuk Masyarakat
Pihak SAR mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Sajingan Besar, khususnya di area kebun dan hutan, agar lebih berhati-hati dan selalu memberi kabar kepada keluarga saat bepergian. Selain itu, masyarakat yang menemukan tanda-tanda mencurigakan atau barang milik korban diminta segera melapor kepada aparat setempat.
Kasus hilangnya Toni menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi warga yang bekerja di wilayah terpencil dan minim akses komunikasi. Hingga kini, pencarian masih terus dilakukan dengan harapan korban dapat segera ditemukan dan memberikan kejelasan bagi keluarga yang menunggu dalam kecemasan.
Baca Juga : Resmikan Gaforaya, Sujiwo Ajak Warga Jaga Ruang Publik
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : museros

