Peresmian Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove pada malam pergantian tahun menjadi penanda babak baru pembangunan ruang publik di Kabupaten Kubu Raya. Di hadapan warga yang memadati kawasan tersebut, Sujiwo, Bupati Kubu Raya, menegaskan bahwa ruang publik bukan sekadar fasilitas untuk dinikmati, melainkan aset bersama yang harus dijaga, dirawat, dan dipelihara secara kolektif.
Momentum peresmian yang dilakukan tepat pada malam tahun baru dipilih bukan tanpa pertimbangan. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya merespons aspirasi masyarakat yang menginginkan ruang terbuka sebagai tempat berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan pergantian tahun dengan cara yang lebih sederhana namun bermakna.
Ruang Publik sebagai Simbol Kebersamaan
Dalam sambutannya, Sujiwo menekankan pentingnya rasa memiliki terhadap fasilitas publik. Menurutnya, keberadaan Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove tidak akan bermakna jika hanya dipandang sebagai proyek pemerintah semata. Nilai sejati ruang publik terletak pada bagaimana masyarakat turut menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanannya.
“Ruang publik ini bukan hanya untuk dinikmati, tapi harus dirawat. Pemerintah menyiapkan fasilitasnya, masyarakat yang menjaganya. Kalau ini dijaga bersama, saya yakin satu bulan lagi kawasan ini akan menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi Kubu Raya, tapi juga Kalimantan Barat,” ujar Sujiwo.
Ia bahkan secara khusus meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kubu Raya untuk segera melengkapi fasilitas pendukung, seperti tempat sampah, agar kawasan tersebut tetap bersih dan ramah bagi pengunjung.
Pembangunan Bertahap, Aspirasi Warga Jadi Prioritas
Sujiwo secara terbuka mengakui bahwa pembangunan Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove sejatinya belum sepenuhnya rampung. Masih diperlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan untuk menyempurnakan seluruh elemen pembangunan, mulai dari penataan lanskap hingga fasilitas pendukung lainnya.
Namun, kuatnya dorongan dan harapan masyarakat membuat pemerintah daerah memutuskan untuk meresmikan lebih awal. Menurut Sujiwo, langkah tersebut mencerminkan prinsip dasar pemerintahan yang berpihak pada kebutuhan rakyat.
“Kita ini pelayan rakyat. Apa yang diinginkan oleh rakyat, itulah yang harus kita dengarkan. Sebenarnya ini belum selesai, tapi masyarakat ingin malam tahun baru punya ruang untuk berkumpul. Maka kami putuskan untuk meresmikan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peresmian ini bukan akhir dari proses, melainkan awal dari pemanfaatan ruang publik yang akan terus disempurnakan. Pemerintah daerah berkomitmen menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam waktu dekat agar kawasan tersebut benar-benar siap digunakan secara optimal.
Ikon Baru dan Harapan Ekonomi Lokal
Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove dirancang tidak hanya sebagai elemen estetika kota, tetapi juga sebagai ikon baru Kabupaten Kubu Raya. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi titik temu masyarakat sekaligus magnet baru bagi aktivitas ekonomi lokal.
Ruang publik yang tertata dengan baik diyakini dapat mendorong tumbuhnya usaha mikro, sektor kreatif, dan kegiatan sosial masyarakat. Sujiwo menilai bahwa pembangunan ruang publik memiliki dampak jangka panjang yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan infrastruktur fisik lainnya.
“Kalau ruang publik hidup, ekonomi rakyat ikut bergerak. Orang datang, berkumpul, berinteraksi. Di situ ada peluang bagi UMKM, ada ruang bagi kreativitas anak-anak muda,” ujarnya.
Peresmian Tanpa Kembang Api, Wujud Empati
Menariknya, peresmian Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove dilakukan tanpa pesta kembang api. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk empati dan solidaritas Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terhadap para korban bencana alam di Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra.
Sujiwo mengungkapkan bahwa sebenarnya telah ada pihak-pihak yang menyiapkan kembang api dengan durasi cukup panjang. Namun, pemerintah daerah memilih untuk menundanya sebagai bentuk kepekaan sosial.
“Sebagian sudah menyiapkan kembang api, bahkan durasinya sampai satu jam lebih. Tapi kita simpan dulu. Kita ikut merasakan duka saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatra. Mudah-mudahan duka ini segera berlalu,” tuturnya.
Ia berharap, pada momen-momen besar berikutnya seperti Imlek dan Idulfitri, perayaan dapat kembali dilakukan bersama-sama dalam suasana yang lebih ceria dan penuh syukur.
Ruang Publik dan Tanggung Jawab Bersama
Ajakan Sujiwo untuk menjaga Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove mencerminkan pandangan bahwa pembangunan tidak berhenti pada tahap fisik. Keberlanjutan ruang publik sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam merawat dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga fasilitas yang ada, serta menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia.
“Kalau kita rawat bersama, ruang ini akan hidup. Tapi kalau kita abai, seindah apa pun bangunannya tidak akan bertahan lama,” tegasnya.
Menuju Ruang Publik yang Berkelanjutan
Dengan peresmian Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove, Kabupaten Kubu Raya menegaskan komitmennya dalam menyediakan ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan. Kawasan ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga simbol kebersamaan, kepedulian, dan identitas daerah.
Dalam satu bulan ke depan, pemerintah daerah menargetkan penyempurnaan seluruh pekerjaan sehingga kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat. Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove menjadi cerminan bagaimana pembangunan dapat berjalan seiring dengan aspirasi rakyat dan nilai-nilai kemanusiaan.
Peresmian sederhana tanpa kembang api, ajakan menjaga bersama, serta penekanan pada empati sosial menjadikan momen ini bukan hanya tentang bangunan baru, tetapi tentang arah baru pembangunan ruang publik di Kubu Raya—yang berakar pada kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.
Baca Juga : Gubernur Gorontalo Beri Wejangan Siswa Kedinasan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : koronovirus

