Pemerintah Kabupaten Aceh Barat memperingati 21 tahun tragedi Tsunami Aceh 2004 dengan menggelar rangkaian kegiatan reflektif dan religius. Peringatan tersebut dipusatkan di Masjid Babul Jannah, Gampong Suak Indrapuri, Kecamatan Johan Pahlawan, dan diikuti unsur Forkopimda, ASN, tokoh masyarakat, hingga warga setempat.
Kegiatan peringatan diisi dengan ziarah makam massal korban tsunami, tausiah, serta zikir dan doa bersama. Momentum ini mengusung tema “Dengan doa kita mengenang, dengan ikhtiar kita siaga”, sebagai pengingat bahwa duka masa lalu harus menjadi pelajaran untuk menghadapi masa depan.
Refleksi Tragedi dan Tantangan Masa Kini
Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM, bersama Wakil Bupati Said Fadheil, SH, menegaskan bahwa peringatan tsunami bukan hanya seremonial tahunan. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi refleksi mendalam atas perjalanan masyarakat Aceh Barat dalam menghadapi bencana demi bencana.
Ia mengingatkan bahwa Aceh Barat kembali diuji bencana banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025. Meski karakter bencananya berbeda dengan tsunami 2004, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan tidak kalah berat.
“Dulu tsunami air laut, sekarang banjir sungai. Dampaknya hampir dirasakan di seluruh desa. Ini menjadi pengingat bahwa ancaman bencana selalu ada dan bisa datang kapan saja,” ujar Tarmizi.
Dampak Ekonomi dan Hilangnya Rasa Aman
Menurut Bupati, meskipun korban jiwa pada tsunami 2004 jauh lebih besar, bencana banjir dan longsor yang terjadi belakangan membawa dampak ekonomi yang sangat serius. Banyak warga kehilangan rumah, sawah, serta kebun yang menjadi sumber utama penghidupan mereka.
Beberapa desa bahkan dilaporkan mengalami kerusakan lahan pertanian hingga 80–90 persen. Kondisi ini membuat masyarakat kehilangan pendapatan dalam jangka waktu panjang, mulai dari tiga hingga enam bulan ke depan.
Selain kerugian materiil, bencana juga meninggalkan trauma psikologis. Setiap hujan deras turun, kecemasan kembali menghantui warga. Sebagian masyarakat terpaksa mengungsi demi keselamatan, sementara opsi relokasi tidak mudah dilakukan karena keterikatan sosial dan ekonomi.
Komitmen Pemerintah Hadapi Pascabencana
Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Tarmizi menyampaikan keprihatinan mendalam kepada seluruh warga terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan dalam menghadapi situasi sulit ini.
Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan darurat, pemulihan, serta rehabilitasi pascabencana. Kehadiran negara, menurutnya, harus dirasakan langsung oleh masyarakat yang sedang diuji.
“Pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat. Ini bukan sekadar janji, tetapi kewajiban moral dan tanggung jawab kami,” tegasnya.
Doa, Solidaritas, dan Nilai Keimanan
Dalam peringatan tersebut, doa bersama dipanjatkan agar para syuhada korban tsunami dan bencana lainnya mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Momen zikir dan doa menjadi pengingat akan kecilnya manusia di hadapan kuasa Tuhan.
Bupati juga menekankan pentingnya memperkuat iman, kebersamaan, serta semangat bangkit. Bencana, menurutnya, harus menjadi jalan untuk mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya.
Ia mengapresiasi solidaritas berbagai pihak yang telah bahu-membahu membantu korban bencana, mulai dari Forkopimda, TNI-Polri, LSM, mahasiswa, relawan, hingga masyarakat umum.
Ajakan Perkuat Kepedulian Sosial
Dalam sambutannya, Tarmizi mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial. Ia mengingatkan bahwa bantuan sekecil apa pun memiliki arti besar bagi warga yang sedang kesulitan.
“Daripada menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, lebih baik kita sisihkan rezeki untuk membantu saudara-saudara kita. Insyaallah menjadi amal jariyah,” pesannya.
Solidaritas sosial dinilai sebagai kekuatan utama Aceh Barat dalam menghadapi bencana. Tanpa kebersamaan, proses pemulihan akan berjalan lebih lambat dan berat.
Edukasi Kesiapsiagaan bagi Generasi Muda
Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa peringatan tsunami juga harus menjadi sarana edukasi mitigasi bencana, terutama bagi generasi muda. Pengetahuan tentang kesiapsiagaan dinilai penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa di masa mendatang.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenang tsunami sebagai cerita masa lalu, tetapi memahami langkah-langkah penyelamatan diri dan kesiapan menghadapi bencana.
“Edukasi kebencanaan harus terus diperkuat. Ini investasi keselamatan untuk masa depan,” ujarnya.
Menjaga Nilai Syariat dan Tatanan Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Tarmizi juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai syariat Islam, khususnya di kawasan wisata pesisir. Pemerintah bersama aparat dan ulama akan terus mengawal aktivitas wisata agar tetap berjalan dalam koridor yang sesuai.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu memberikan sanksi tegas, termasuk penutupan permanen, jika masih ditemukan pelanggaran.
“Rezeki harus dicari dengan cara yang baik, apalagi saat saudara-saudara kita sedang diuji bencana,” tegasnya.
Momentum Bangkit dan Bersatu
Peringatan 21 tahun tsunami Aceh di Aceh Barat diharapkan menjadi momentum memperkuat kepedulian, kesiapsiagaan, dan persatuan masyarakat. Tragedi masa lalu menjadi pengingat, sementara tantangan hari ini menjadi panggilan untuk bersatu.
Dengan doa, ikhtiar, dan solidaritas sosial, Aceh Barat diharapkan semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan bencana di masa depan.
Baca Juga : Pemko Medan Perkuat Penanggulangan Banjir dengan 10.000 Geobag, Jadi Benteng Penahan Air Sungai
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : jalanjalan-indonesia

